Saat Blog Ini Benar-Benar Berhenti
Ada masa di mana blog ini benar-benar diam.
Tidak ada tulisan baru.
Tidak ada rencana.
Tidak ada niat untuk kembali.
Awalnya hanya menunda.
Satu minggu.
Satu bulan.
Lalu tanpa terasa, berubah jadi bertahun-tahun.
Saya tidak pernah secara resmi “berhenti”.
Saya hanya… tidak melanjutkan.
Dan ternyata, berhenti tanpa pamit jauh lebih mudah daripada yang saya kira.
Alasan di Balik Blog yang Mati
Kalau jujur, tidak ada satu alasan besar.
Yang ada justru kumpulan alasan kecil.
Pekerjaan makin menyita waktu.
Energi habis di luar.
Dan menulis terasa seperti beban tambahan.
Ditambah lagi satu hal yang paling berbahaya:
merasa blog sudah tidak relevan.
Saat itu saya berpikir,
“Siapa juga yang masih baca blog?”
Pikiran itu cukup untuk membuat saya menutup laptop dan tidak membuka blog lagi.
Domain Hilang, Arsip Tetap Ada
Salah satu momen yang cukup menampar adalah ketika domain lama tidak diperpanjang.
Blog yang dulu saya rawat, perlahan menghilang dari ingatan.
Awalnya terasa biasa saja.
Tapi belakangan, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Bukan soal domain.
Tapi soal jejak.
Tulisan-tulisan lama itu adalah versi diri saya di masa lalu.
Dan ketika blog mati, seolah saya ikut menghapus sebagian perjalanan itu.
Kembali Tanpa Perayaan
Saya tidak kembali menulis dengan pengumuman besar.
Tidak ada target.
Tidak ada rencana ambisius.
Saya hanya membuka halaman kosong… dan menulis.
Tulisan pertama setelah vakum terasa canggung.
Tidak rapi.
Tidak percaya diri.
Tapi satu hal terasa jelas:
keinginan menulis ternyata belum benar-benar hilang.
Ia hanya tertimbun oleh waktu dan keraguan.
Pelajaran Penting dari Blog yang Pernah Mati
Dari pengalaman ini, saya belajar beberapa hal sederhana tapi penting.
1. Vakum Itu Wajar
Berhenti sejenak tidak membuat kita gagal.
Yang menentukan adalah apakah kita mau kembali atau tidak.
2. Blog Tidak Menuntut Penjelasan
Blog tidak marah saat ditinggal.
Ia hanya menunggu.
3. Tidak Ada Kata Terlambat
Tidak peduli berapa lama vakum, satu tulisan baru sudah cukup untuk menghidupkannya kembali.
Perasaan Saat Membaca Tulisan Lama
Salah satu hal yang paling menyentuh adalah membaca tulisan lama.
Gaya bahasanya berbeda.
Cara pandangnya pun berubah.
Ada tulisan yang terasa polos.
Ada yang terasa naif.
Tapi semuanya jujur.
Dan justru di situlah nilainya.
Blog menjadi saksi perubahan — tanpa menghakimi.
Apa yang Berubah Setelah Kembali Menulis
Setelah kembali, cara pandang saya terhadap blog ikut berubah.
Saya tidak lagi mengejar konsistensi sempurna.
Tidak lagi memaksakan produktif.
Sekarang saya menulis dengan tujuan sederhana:
menjaga blog tetap bernapas.
Satu tulisan dalam dua minggu sudah cukup.
Yang penting berlanjut.
Catatan Pribadi untuk Diri Sendiri
Kalau suatu hari nanti saya tergoda untuk berhenti lagi, saya ingin mengingat satu hal:
Blog ini pernah mati.
Dan menghidupkannya kembali tidak mudah.
Jadi jangan dimatikan lagi hanya karena lelah sesaat.
Menulis pelan lebih baik daripada berhenti diam-diam.
Kembali Itu Selalu Mungkin
Blog ini pernah mati.
Dan mungkin suatu hari akan melambat lagi.
Tapi sekarang saya tahu satu hal:
kembali selalu mungkin.
Tidak perlu sempurna.
Tidak perlu ramai.
Cukup satu tulisan jujur untuk menyalakan kembali api kecil itu.



Posting Komentar