Ketika Semua Terlihat Harus Viral
Semua serba angka.
Like, share, view, engagement.
Tanpa sadar, cara pandang itu ikut terbawa saat menulis blog. Saya pun pernah berpikir, kalau tulisan tidak ramai, berarti gagal. Kalau tidak banyak dibaca, berarti tidak penting.
Padahal blog dan media sosial sebenarnya punya tujuan yang sangat berbeda.
Blog Pribadi Bukan Panggung, tapi Ruang
Media sosial adalah panggung.
Blog pribadi adalah ruang.
Di media sosial, kita memilih apa yang ingin ditampilkan.
Di blog, kita bisa menulis apa yang ingin disimpan.
Blog tidak menuntut reaksi cepat.
Tidak ada tekanan harus menarik perhatian dalam hitungan detik.
Tulisan blog boleh dibaca hari ini, bulan depan, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Dan justru di situlah kekuatannya.
Pengalaman Menulis Tanpa Target Viral
Saya pernah mencoba menulis dengan harapan dibaca banyak orang.
Hasilnya? Cepat lelah.
Setiap kali membuka statistik, saya kecewa.
Setiap kali artikel sepi, motivasi turun.
Lucunya, saya sering membuka statistik itu berulang-ulang, seolah-olah dengan dilihat terus angkanya bisa berubah sendiri 😄. Padahal ya tetap sama aja.
Sampai akhirnya saya sadar:
menjadikan viral sebagai tujuan utama hanya membuat menulis terasa berat.
Ketika saya berhenti mengejar angka, menulis justru terasa lebih ringan. Saya mulai menulis untuk diri sendiri — bukan untuk algoritma.
Dan anehnya, tulisan terasa lebih jujur dan mengalir.
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Mengejar Viral
Ada beberapa kesalahan yang saya sadari dari pengalaman pribadi.
1. Terlalu Membandingkan Diri
Melihat blog lain yang ramai membuat saya merasa tertinggal.
Padahal perjalanan setiap blog berbeda.
2. Menulis Tidak Sesuai Diri Sendiri
Demi terlihat menarik, saya sempat memaksakan gaya tulisan yang bukan saya.
3. Mudah Menyerah
Ketika tidak viral, saya menganggap tulisan gagal — padahal mungkin hanya butuh waktu.
Menulis bagian ini bikin saya sadar, sebagian besar kesalahan itu bukan soal teknik menulis, tapi soal ekspektasi saya sendiri yang terlalu tinggi di awal.
Blog yang Bertahan Tidak Selalu Ramai
Banyak blog besar hari ini yang dulunya sepi.
Yang membedakan bukan bakat, tapi kesabaran.
Blog yang bertahan biasanya punya satu kesamaan:
-
penulisnya konsisten
-
topiknya jelas
-
tulisannya jujur
Pembaca mungkin datang pelan-pelan.
Tapi mereka datang dengan niat membaca, bukan sekadar lewat.
Dan itu jauh lebih berharga.
Nilai Tulisan Tidak Ditentukan oleh Angka
Tulisan yang dibaca satu orang dengan sungguh-sungguh lebih bermakna daripada tulisan yang dibaca ratusan orang tanpa benar-benar dipahami.
Saya pernah mendapat satu pesan sederhana dari pembaca:
“Terima kasih, tulisannya kena.”
Satu kalimat itu lebih berarti daripada grafik statistik apa pun.
Dan sejak saat itu, saya berhenti mengukur tulisan dengan angka.
Pesan itu datang di saat blog sedang benar-benar sepi. Justru karena datang di momen itu, rasanya jadi lebih kena dan sulit dilupakan.
Apa yang Saya Pelajari dari Menulis Tanpa Viral
Beberapa pelajaran penting yang saya rasakan:
-
Tulisan jujur selalu menemukan pembacanya sendiri
-
Konsistensi lebih penting daripada popularitas
-
Blog tidak harus ramai untuk bermakna
Blog pribadi bukan lomba.
Tidak ada garis finish.
Yang ada hanya proses.
Catatan Pribadi untuk Diri Sendiri
Kalau suatu hari blog ini terasa sepi lagi, saya ingin mengingat satu hal:
Saya menulis bukan untuk terkenal,
tapi untuk bertahan menjadi diri sendiri.
Blog ini adalah tempat pulang.
Dan rumah tidak harus ramai untuk terasa hangat.
Bertahan Lebih Penting daripada Viral
Viral itu cepat.
Bertahan itu lama.
Dan untuk blog pribadi, yang lama jauh lebih berharga.
Selama masih ada keinginan menulis, blog ini akan terus hidup.
Pelan, sederhana, tapi jujur.
Tulisan ini saya simpan di blog sebagai pengingat. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri saya sendiri, kalau suatu hari nanti saya kembali tergoda mengejar angka dan lupa alasan awal menulis.
Foto oleh Unsplash



Posting Komentar