Saat Menulis Bukan untuk Dibaca Orang Lain
Ada masa ketika saya menulis bukan karena ingin dibaca.
Bukan karena ingin didengar.
Bukan karena ingin dianggap penting.
Saya menulis karena kepala terasa penuh.
Pikiran saling bertabrakan.
Perasaan tidak jelas bentuknya.
Dan berbicara ke orang lain terasa terlalu melelahkan.
Di titik itu, blog menjadi tempat paling aman.
Bukan untuk tampil — tapi untuk menaruh.
Blog sebagai Ruang Aman
Berbeda dengan media sosial, blog tidak menuntut reaksi.
Tidak ada notifikasi yang harus dibalas.
Tidak ada komentar yang wajib ditanggapi.
Blog hanya menyediakan satu hal: ruang.
Ruang untuk menulis pelan.
Ruang untuk ragu.
Ruang untuk jujur tanpa takut disalahpahami.
Dan dari situlah saya mulai menyadari, menulis blog punya efek yang tidak saya rencanakan sebelumnya.
Terapi yang Tidak Saya Sadari
Saya tidak pernah berniat menjadikan menulis sebagai terapi.
Saya hanya menulis karena perlu.
Namun perlahan, saya merasakan dampaknya.
Setelah menulis, napas terasa lebih panjang.
Kepala terasa lebih ringan.
Masalah tidak langsung selesai, tapi terasa lebih tertata.
Menulis tidak menghilangkan masalah.
Tapi ia memberi jarak — cukup untuk melihatnya dengan lebih tenang.
Menulis Membantu Merapikan Pikiran
Ada pikiran yang terasa rumit saat disimpan di kepala.
Tapi menjadi lebih masuk akal saat ditulis.
Saat menulis, saya dipaksa menyusun kalimat.
Dan saat menyusun kalimat, saya dipaksa memahami apa yang sebenarnya saya rasakan.
Kadang baru sadar sedang marah setelah menulis satu paragraf.
Kadang baru sadar sedang lelah setelah membaca ulang tulisan sendiri.
Menulis membuat pikiran yang kabur menjadi lebih terlihat.
Tidak Semua Tulisan Harus Dipublikasikan
Salah satu hal yang membuat menulis terasa menenangkan adalah kesadaran bahwa tidak semua tulisan harus dibagikan.
Ada tulisan yang cukup disimpan.
Ada tulisan yang hanya untuk diri sendiri.
Blog memberi pilihan itu.
Saya punya beberapa draft yang tidak pernah saya publikasikan.
Dan tidak apa-apa.
Nilai menulis tidak selalu ada pada pembacanya, tapi pada prosesnya.
Perbedaan Menulis di Blog dan Media Sosial
Media sosial mendorong kita untuk memilih versi terbaik.
Kalimat paling aman.
Cerita paling singkat.
Blog tidak.
Di blog, saya bisa menulis panjang.
Boleh berputar-putar.
Boleh tidak punya kesimpulan jelas.
Dan justru kebebasan itulah yang membuat blog terasa lebih manusiawi.
Menulis Saat Tidak Baik-Baik Saja
Ada anggapan bahwa menulis harus dilakukan saat suasana hati baik.
Saya justru merasakan sebaliknya.
Menulis paling jujur justru datang saat tidak baik-baik saja.
Saat kecewa.
Saat bingung.
Saat lelah.
Menulis di kondisi itu bukan untuk mencari simpati, tapi untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri.
Apa yang Saya Pelajari dari Menulis sebagai Terapi
Dari kebiasaan menulis ini, saya belajar beberapa hal penting:
-
Tidak semua perasaan perlu diselesaikan segera
-
Menuliskan emosi membuatnya lebih terkendali
-
Diam dan menulis kadang lebih membantu daripada banyak bicara
Menulis tidak selalu memberi jawaban.
Tapi sering kali memberi ketenangan.
Catatan Pribadi untuk Diri Sendiri
Kalau suatu hari saya merasa menulis tidak berguna, saya ingin mengingat ini:
Menulis pernah membantu saya melewati hari yang berat.
Dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk melanjutkannya.
Blog ini bukan tempat pamer kekuatan.
Ia tempat mengakui kelemahan dengan jujur.
Terapi yang Tidak Bising
Menulis blog sebagai terapi tidak berisik.
Tidak dramatis.
Tidak instan.
Tapi ia bekerja pelan.
Dan mungkin, terapi terbaik memang yang tidak banyak bicara — hanya memberi ruang agar kita bisa bernapas lebih lega.



Posting Komentar