Pengalaman ke Dufan Bersama Keluarga, Cerita Liburan ke Dufan Weekday

cerita liburan ke dufan weekday

Dufan yang Tidak Banyak Berubah, Tapi Saya yang Berubah

Dufan bukan tempat baru buat saya. Saya sudah berkali-kali ke sini.
Mulai dari anak pertama saya masih SD, sekarang sudah kuliah. Dulu anak kedua masih digendong, sekarang sudah kelas 8. Kalau dihitung-hitung, mungkin saya sudah belasan kali ke Ancol. Bahkan sejak saya kecil dulu, tiap Lebaran sering diajak keluarga ke pantai Ancol.

Jadi bisa dibilang, Dufan dan Ancol itu bukan sekadar tempat wisata. Ada banyak lapisan kenangan di sana.

Kali ini saya datang ke Dufan bukan karena niat khusus. Anak saya dapat tiket gratis dari giveaway.
Jujur saja, saya sempat merasa bosan karena sudah bolak-balik ke sini. Tapi ya… siapa juga yang menolak gratisan? Sayang kalau sampai hangus.

Akhirnya fix, kami berangkat: saya, istri, dan anak-anak.


Memilih Weekday dan Cuaca yang “Setengah Bersahabat”

Kami sengaja memilih datang di hari weekday.
Bukan tanpa alasan. Weekend biasanya terlalu ramai, dan kebetulan ada agenda lain. Selain itu, bulan Januari masih sering hujan. Hari itu cuaca agak terang meski mendung dan sempat gerimis tipis. Tapi tidak masalah, selama tidak hujan deras.

Yang membuat saya agak malas sebenarnya adalah perjalanan ke Ancol.
Akses jalan saat ini bukan perkara mudah. Masih ada pembangunan jalan tol Pelabuhan 2 yang memakan sebagian badan jalan. Macet hampir tidak bisa dihindari. Kadang buka-tutup jalan saat alat berat lewat atau saat pekerjaan penyambungan jalan layang dilakukan.

Jadi ya, kemalasan ke Ancol kali ini lebih karena kondisi jalan yang belum sepenuhnya beres.


Menunggu Dufan Buka dan Kenangan di Pintu Masuk

cerita liburan ke dufan weekday


Sebelum masuk Dufan, kami sempat foto-foto dulu di pantai. Sekadar menikmati suasana sambil menunggu jam buka.

Dari pengalaman saya, Dufan biasanya buka sekitar jam 10 pagi. Kalau datang terlalu awal, dulu sering harus antre lama di depan pintu. Saya masih ingat berdiri lama menunggu gerbang dibuka.

Sekarang rasanya lebih cepat. Semua sudah serba online. Tidak seperti dulu yang masih manual, bahkan tangan dicap logo Dufan sebagai tanda masuk.
Jujur, dulu saya senang sekali dengan cap tangan itu. Rasanya seperti ritual wajib. Sekarang sudah tidak ada lagi.

Zaman memang berubah.


Panik Sebelum Masuk: Halilintar dan Umur

Begitu sampai area parkiran Dufan, badan saya tiba-tiba terasa tidak enak. Nafas agak sesak, tidak plong.

Masalahnya sederhana: saya ditantang naik Halilintar.

Dan tubuh saya langsung merespons panik.
Terbayang wahana itu saja jantung rasanya mau copot. Seperti nyawa dicabut paksa.

Saya benar-benar kena serangan panik kecil. Butuh waktu agak lama untuk menenangkan diri. Sambil menunggu istri dan anak naik bom-bom car, saya menenangkan diri sendiri.

Saya bilang dalam hati,
“Tenang… kamu ke sini mau senang-senang, bukan mau stres atau takut.”

Pelan-pelan, nafas mulai membaik.


Dufan Ramai, Meski Bukan Weekend

Saya sempat mengira Dufan akan sepi karena hari Kamis.
Ternyata tetap ramai.

Banyak anak pelajar berseragam, mungkin outing sekolah. Banyak juga keluarga seperti kami.
Siapa tahu, mereka juga dapat tiket giveaway… hehe.

Dan satu hal yang selalu bikin ingat: jingle Dufan.
Lagunya itu loh… selalu diputar dan entah kenapa gampang sekali nempel di kepala.


Wahana yang Itu-Itu Saja, Tapi Tetap Didatangi

Kalau ditanya apakah Dufan berubah?
Jujur saja: tidak banyak.

Wahananya itu-itu saja. Tapi entah kenapa, setiap datang, tetap saja dinaiki.

Yang hampir selalu kami kunjungi:

  • Perang Bintang

  • Wahana 4D

  • Ice Age

  • Niagara-gara

Meski 4D sekarang rasanya tidak seseru dulu.

Saya juga ingat satu kejadian lama.
Pernah kami antre Arung Jeram cukup lama. Tapi tepat di depan perahu, mesinnya mati dan tidak bisa beroperasi. Akhirnya kami dialihkan ke Ice Age dan diberi tiket fast track, lengkap dengan cap di tangan.

Itu pertama kalinya saya merasakan “jalur cepat”.
Lumayan memangkas waktu, meski antrean fast track-nya sendiri juga tidak bisa dibilang sebentar. Tapi tetap terasa… agak premium.


Niagara-gara dan Nasib yang Berulang

Ini sudah kali kedua saya naik Niagara-gara.
Tahun lalu, pasca pandemi, satu perahu hanya diisi dua orang.

Dan ada satu pengalaman yang… jujur saja, bikin trauma.

Saat perahu meluncur ke bawah, posisi duduk saya kurang pas. Bagian antara “maaf ya” dubur dan kemaluan terbentur bangku dengan keras.
Rasanya sakit sekali. Sampai mules.
Seperti kemaluan kena tendangan bebas Cristiano Ronaldo.

Kemarin saya coba lagi.
Saya pikir, kali ini harus lebih siap.

Perahu penuh empat orang. Dari awal ditarik ke atas, saya sudah mengatur posisi. Saat mendarat, pantat saya angkat sedikit agar tidak terbentur.

Tapi apa yang terjadi?
Tetap kena juga.

Tidak sesakit tahun lalu sih. Tapi ya… nasib tetaplah nasib.

Basah? Jelas.
Dan saya heran, banyak yang pakai jas hujan. Kalau saya pribadi justru tidak mau. Menurut saya, main air ya harus basah. Di situlah sensasinya. Tapi mungkin setiap orang punya alasan sendiri.


Pertunjukan dan Hal yang Mulai Terasa Biasa

Kalau weekday, Dufan dibatasi sampai jam 5 sore. Tidak seperti weekend yang ada parade dan pertunjukan panggung.

Yang paling memorable buat saya sebenarnya pertunjukan stuntman Dokter Smith (saya lupa judul resminya).
Dulu pertama kali nonton, saya sampai bengong. Kagum. Keren banget.

Tapi saat nonton lagi, rasanya sudah agak biasa.
Meski tetap ingat momen teriakan “Dokter Smith!” disusul api dan air muncrat ke arah penonton. Tetap bikin kaget dan ketawa.


Yang Berubah Ternyata Bukan Dufan

Soal harga tiket sekarang saya tidak terlalu tahu.
Dulu, supaya lebih hemat, saya pernah beli annual pass sampai dua kali. Satu kartu bisa dipakai lama, hampir setahun.

Sistem antre sekarang terasa lebih rapi. Suasana masih sama. Jingle masih sama.

Yang benar-benar berubah… saya.

Dulu saya sanggup naik Halilintar, Histeria, Kora-kora. Hampir semua wahana, kecuali Tornado dan Kicir-kicir. Bukan karena tidak berani, tapi karena takut efek setelahnya: mual, pusing, muntah. Saya memang takut ketinggian.

Sekarang?
Hampir semua wahana ekstrem saya lewati. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak mau.

Saya sudah tidak sanggup memacu adrenalin seperti dulu.
Yang masih saya nikmati hanya wahana yang tidak terlalu tinggi: 4D, Perang Bintang, Niagara-gara, Ice Age. Itu pun Ice Age masih bikin kaget pas meluncur.

Ketinggian sekarang jadi musuh bebuyutan saya.
Rasanya seperti mau jatuh, meski katanya aman.

Mungkin memang saya tidak semuda dulu.


Dufan, Waktu, dan Suatu Hari Nanti

Dulu saya datang ke Dufan sebagai anak, lalu sebagai ayah.
Mungkin suatu hari nanti, saya akan datang lagi sebagai kakek. Duduk mengawasi cucu naik Halilintar, Histeria, atau Tornado, sambil bercerita:

“Dulu kakek juga pernah naik itu.”

Waktu terus berjalan.
Dufan mungkin terasa itu-itu saja, tapi hidup tidak.

Dan mungkin, sesekali datang ke tempat seperti ini bukan soal wahananya, tapi soal berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota.
Sekadar mengingat bahwa kita pernah berada di banyak fase — dan semuanya punya cerita.

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar