Mengapa Konsistensi Menulis Lebih Sulit daripada Memulai Blog

konsistensi menulis di blog pribadi meski tanpa pembaca
Awal yang Selalu Penuh Semangat

Tulisan ini saya buat sebagai catatan pribadi, sekaligus pengingat untuk diri sendiri.
Bukan karena saya sudah konsisten, tapi justru karena saya pernah tidak konsisten.

Hampir semua blog dimulai dengan cara yang sama.
Penuh semangat.
Penuh ide.
Dan penuh harapan.

Saya pun begitu.

Saat pertama kali membuat blog, rasanya seperti menemukan ruang pribadi yang bebas. Bebas menulis apa saja, kapan saja, tanpa harus memikirkan penilaian orang lain. Setiap ide terasa penting. Setiap tulisan terasa layak dibagikan, meski belum tentu ada yang membaca.

Masalahnya, semangat awal hampir selalu menipu.

Karena tantangan sebenarnya bukan memulai blog — melainkan menjaganya tetap hidup.


Memulai Itu Mudah, Bertahan Itu Berat

Dulu saya sempat berpikir konsistensi menulis itu soal disiplin.
Kalau niatnya kuat, ya pasti jalan.

Nyatanya tidak sesederhana itu.

Setelah beberapa minggu atau bulan, realitas mulai muncul:

  • ide terasa biasa saja

  • waktu makin sempit

  • hidup terasa lebih mendesak daripada menulis

Di titik ini, banyak blog mulai melambat.
Termasuk blog saya sendiri.

Bukan karena tidak suka menulis, tapi karena menulis mulai terasa “tidak penting” dibanding hal lain yang lebih mendesak.

Dan di situlah konsistensi mulai goyah.


Ketika Statistik Diam dan Motivasi Ikut Turun

Ada satu fase yang menurut saya paling berat dalam menulis blog:
saat tidak ada yang membaca.

Tidak ada komentar.
Tidak ada notifikasi.
Grafik statistik datar.

Saya masih ingat, beberapa kali membuka dashboard blog hanya untuk menutupnya lagi sambil bertanya dalam hati:
“Masih perlu dilanjutkan?”

Di era media sosial, kita terbiasa dengan respon cepat.
Sementara blog berjalan pelan — bahkan sering terasa sunyi.

Dan keheningan itu menguji niat menulis lebih dari apa pun.


Kesalahan Saya dalam Menjaga Konsistensi

Kalau boleh jujur, ada beberapa kesalahan yang saya lakukan sendiri.

1. Terlalu Menunggu Mood
Saya sering merasa menulis harus dalam kondisi ideal. Padahal, mood jarang datang tepat waktu.

2. Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Saya ingin setiap tulisan terasa pantas dan rapi. Akhirnya, banyak tulisan berhenti di draft dan tidak pernah selesai.

3. Membandingkan dengan Blog Lain
Melihat blog lain yang rapi dan ramai pembaca membuat saya merasa tertinggal.
Padahal, setiap blog punya perjalanan masing-masing.


Pelajaran Penting tentang Konsistensi Menulis

Seiring waktu, saya mulai memahami sesuatu yang sederhana tapi penting.

Konsistensi bukan tentang menulis bagus.
Konsistensi adalah tentang tetap menulis, meski terasa biasa.

Menulis walau pendek.
Menulis walau tidak yakin.
Menulis walau tidak ada yang menunggu.

Justru dari situlah kebiasaan terbentuk.

Dan kebiasaan kecil yang diulang jauh lebih kuat daripada semangat besar yang cepat habis.


Menulis Blog sebagai Latihan Berpikir

Pelan-pelan, saya berhenti mengejar hasil.
Saya mulai melihat blog sebagai tempat latihan.

Latihan merapikan pikiran.
Latihan jujur pada diri sendiri.
Latihan menulis tanpa harus mengesankan siapa pun.

Saat tujuan menulis berubah, bebannya ikut berkurang.

Blog tidak lagi terasa seperti tugas, tapi seperti ruang pulang.


Apa yang Saya Pelajari dari Fase Ini

Dari perjalanan menjaga konsistensi menulis di blog pribadi, saya belajar beberapa hal:

  • Tidak apa-apa menulis tidak sempurna

  • Tidak semua tulisan harus penting

  • Yang penting adalah keberlanjutan

Tulisan yang konsisten, walau sederhana, akan selalu lebih bernilai daripada tulisan bagus yang tidak pernah selesai.


Catatan Kecil untuk Diri Sendiri

Kalau suatu hari nanti saya membaca tulisan ini lagi, saya ingin mengingat satu hal:

Tidak perlu menunggu siap untuk menulis.
Menulis itu yang membuat siap.

Blog ini mungkin tidak besar.
Pembacanya mungkin tidak banyak.

Tapi selama masih ada satu tulisan yang lahir dengan jujur, blog ini masih hidup.


Menulis Pelan, Tapi Bertahan

Konsistensi menulis memang sulit.
Dan mungkin akan selalu begitu.

Tapi saya percaya, menulis pelan lebih baik daripada berhenti.
Menulis seadanya lebih baik daripada menunggu sempurna.

Blog pribadi bukan tentang kecepatan.
Ia tentang bertahan.

Dan selama masih mau kembali menulis, konsistensi itu masih mungkin dibangun.


📷 Foto ilustrasi dari Unsplash

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar