Jalan Sudirman - M.H.Thamrin, Saksi Bisu Perjuangan Hidupku


SUDIRMAN Car Free Day

Hari minggu selepas dari Pasar Tanah Abang saya melintasi jalan sudirman, saya berhenti sejenak dengan istri untuk sekedar memotret dan memandangi jalan sudirman dari fly over jalan prof DR. satrio dan jalan K.H. Mas Manyur.

Bagi sebagian orang mungkin jalan ini terlihat biasa saja, hanya sebuah jalan utama yang menjadi pusat bisnis dan  perkantoran di Jakarta.

Jalan sepanjang 6,5 km yang setiap hari Minggu rutin menggelar car free day, mulai pukul 06.00 – 11.00 Wib, dari persimpangan Thamrin-Medan Merdeka Barat sampai dengan Bundaran Senayan ini, mungkin bukan apa-apa bagi sebagian orang.

Tapi bagi saya tidak, jalan ini menjadi saksi bisu perjuangan setelah saya di PHK dari pabrik yang sudah lebih dari 6 tahun saya tekuni, karena bangkrut.

Perasaan saya waktu itu hancur dan bingung saat teringat anak istri, mau kerja apa nih? uang pesangon tentu lama-kelamaan akan habis.

Udah gitu ijazah yang saya pegang hanya STM, karena masih kuliah saat itu. Kalau mau bekerja di pabrik lagi umur saya sudah tidak memenuhi syarat.

Demi menyambung hidup karena telah memiliki anak saya mencari lowongan di koran. Dan kebetulan lowongan yang sesuai dengan usia saya waktu itu, pekerjaan sebagai kurir.

Syaratnya cuma surat lamaran, riwayat hidup, transkip nilai, ijazah , sim C dan punya motor. Tanpa batas usia, yang penting masih sanggup naik motor.




Setelah di terima saya di tugaskan di pusat bisnis jakarta kawasan segitiga emas yaitu Sudirman-Thamrin.

Awal bekerja saya di bimbing senior untuk menghafal rute-rute jalan. Di hari pertama ini saya masih berdua, tandem istilah mereka. Saya belajar Attitude pengiriman surat, parkir yang aman dan jalan pintas.

Hari kedua saya di lepas, karena masih bingung saya pun nyasar hampir sampai tanah abang karena salah belok, tapi untung cepat ingat dan langsung putar balik.

Di hari-hari berikutnya pekerjaan semakin lancar dan saya mulai di kenal oleh para receptionist dan security.

Saya bertugas mengantarkan surat-surat, mulai dari tagihan internet sampai tagihan kartu kredit ke kantor-kantor di wilayah ini. Menenteng ratusan amplop dengan tas ransel yang berat, sebab kalau saya tinggal di parkiran saya takut kehujanan atau hilang.

Enggak lupa saya juga bawa nasi dari rumah dan air minum biar irit, sebab harga makanan di kawasan ini lebih mahal menurut saya waktu itu.


Rute saya dimulai dari jalan ini yang sebelah barat atau kiri gambar, karena yang sebelah timur atau kanan rute kawan saya.

Biasanya saya sampai di jalan ini pada pukul 09:00 pagi dan jam 17:00 sore saya baru selesai
berikut ini nama  gedung-gedung yang biasa saya kunjungi:

Jl Jend. Sudirman   

  • Le Meridien Hotel
  • BDNI Center
  • Hotel Sahid Jakarta
  • Da Vinci Tower
  • Intercontinental Mid Plaza/Mid Plaza
  • Wisma Nugra Santana
  • Auto2000 Sudirman
  • Wisma Prine Center    
  • Wisma Kyoei Prince
  • Wisma Arthaloka
  • Wisma BNI dan Wisma 46    

Jl. MH Thamrin   

  • Hotel Indonesia, Grand Indonesia Shopping Town dan Kempinski Residence (Bintang 5)
  • Plaza Indonesia dan Grand Hyatt Jakarta (Bintang 5)    
  • Kedutaan besar Jepang, Kedutaan besar Korea Selatan
  • EX Plaza
  • Hotel Four Points by Sheraton Jakarta Thamrin
  • Gedung Jaya
  • Menara Thamrin
  • Badan Perencanaan dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Setiap saya masuk ke salah satu gedung dan melihat orang-orang bekerja di belakang meja saya selalu berpikir. "enak sekali mereka bisa bekerja di kantor yang sejuk di depan komputer pula"

Saya selalu senang dan tersenyum lebar setiap berkunjung ke kantor-kantor ini. Sambil berharap saya juga pengin seperti mereka.

Tapi karena gaji sebagai kurir terlalu kecil waktu itu di tahun 2007 hanya sekitar Rp. 600.000 sebulan, dan tiak mencukupi, akhirnya saya hanya bertahan 3 bulan.

Saya pun tidak bisa keluar masuk kantor lagi dan merasakan suasana perkantoran.

***

Singkat cerita sekarang impian saya terwujud setelah sekitar sepuluh tahun berlalu kehidupan saya makin membaik, saya sekarang sudah menjadi pekerja kantoran yang setiap hari berhadapan dengan komputer, persis seperti yang saya impikan.

Perjalanan hidup yang sangat berliku dengan jalan yang tak terduga.

Impian saya untuk menjadi blogger sejak tahun 2008 pun sekarang sudah terwujud.

Sampai sekarang saya masih lanjut menggapai mimpi-mimpi yang lain.

maaf...  edisi curhat ya, kali ini.


Saya sedang ingin berbagi cerita, menurut saya segala sesuatu itu gak ada yang instant. Semua butuh perjuangan.

Saya percaya semua mimpi pasti akan menjadi kenyataan jika kita mau berusaha mewujudkannya.

Impian saya terwujud karena jasa kawan - kawan saya, yang sudah memberikan peluang dan kesempatan dan namanya tidak bisa saya sebut satu persatu, karena saking banyaknya.

Yap... Pertemanan dan silaturahim itu penting Guys.

Terhitung sudah belasan kali saya modar-mandir perusahaan hingga impian saya terwujud. Fuuiihh... banyaknya.  yah... itulah perjuangan.

Menjelang akhir tahun ini impian saya kedepan ingin memiliki rumah yang sedang saya incar di bekasi.

Entah kapan akan terwujud.

kini jalan sudirman - thamrin adalah sebuah memori bagi saya, kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.

6 komentar

  1. Saya pikir saksi biksu perjuangan Mas Andi dalam Meraih Cinta Sang Kumendan..... ternyata saya salah duga, hahahah....

    Saya Doakan semoga Mas Andi Di Tahun 2018 bisa membeli rumah yang Mas Idam2kan.Amin.

    saya dulu pernah berhenti kerja, karena perusahaanya dijual. Terus Action dengan kerjaan apa saja, dan akhirnya sudah mendapat kerja tetap seperti sekarang ini. Alhamdulillah sekali rasanya Mas.

    saya juga pernah berpikir " betah indahnya orang yang kerja di kantor dng AC yang tiada mati2nya " hingga akhirnya Allah memberikan saya kesempatan seperti mereka. Alhamdullilah.

    kisah2 saya dalam mencari dan bekerja sdh saya kupas di blog saya, coba dech mas,,,kupas pengalamannya ? siapa tahu banyak orang yang terinspirasi hingga akhirnya mereka semangat kembali seperti Mas Andi.

    Ohy kalau boleh tahu, Mas Andi asli orang mana sich ?

    BalasHapus
  2. Kalau di ceritain mah sedih Kang, saat mulai perjuangan hidup jauh dan lepas dari orang tua dengan sang Kumendan saya memutuskan hidup di bekasi,karena posisi pabrik emang di sana, terasa berat. sampai anak saya hampir tiap hari makan cuma ama telor doang, boro - boro mikirin makan daging, makn ayam aja sebulan sekali

    soalnya belum punya kulkas, gak bisa nyimpen sayur atau ikan lama-lama. kadang beli ayam itupun harus nitip di kulkas tetangga.

    Saya ingat kalau pas di pabrik dapet catering jatah ayam, akan saya bungkus dan saya bawa pulang buat anak, saya makan sama nasi dan sisa lauk aja.

    anak pertama saya yang kerasa betul jaman susah dulu. sekarang anak saya sudah SMP suka sedih kalau foto-foto dia kecil.

    tapi emang betul kang doa orang tua dan istri itu memang manjur.

    pas kelahiran anak kedua semua berubah, pekerjaan saya semakin baik. oleh sebab itu anak saya di beri nama "Irsyad Rizqullah" yang kira - kira artinya petunjuk rezeki dari Allah. karena saya percya nama itu juga doa.

    kerjaan mah ngalamin juga jadi sales batu batery, tapi pengalaman kerja saya bukan cuma itu aja sih masih banyak.

    Ah.. KANG NATA INI KEPO DEH..

    orang tua saya asli jawa kang Tapi saya lahir di tanah Batavia.

    makanya saya di kasih nama "Masandi Wibowo" di KTP. itu asli nama saya.

    BalasHapus
  3. Ahh.. jangan pernah putus harapan mas. Berjuang terus.

    Saya pun pernah diPHK tahun 2006 padahal cicilan rumah baru tahun kedua dari 10 tahun. Pusing dan kepala kayak mau pecah saat itu.

    Terbayang lah di depan mata suramnya masa depan.

    Cuma akhirnya saya pikir nggak ada gunanya begitu. Saya akhirnya dapat pekerjaan di Tangerang dan saya jalani pulang pergi setiap hari Bogor -Tangeran selama hampir 2 tahun. Dua kali mengalami kecelakaan

    Tapi akhirnya kami survive.

    Berat, tetapi mengenang masa itu, bersyukur banget walau saat merasakan PP lebih dari 100 kilometer setiap harinya bikin badan terasa remuk.. 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pak perjuangan itu perlu, nasib kita emang ga ada yang tau.

      betul kata Pak Anton jangan pernah putus asa.

      di PHK itu bukan akhir dari segalanya.

      ternyata pak Anton cukup survive juga, saya gak ngebayangin pp lebih dari 100 km.

      kalau saya mungkin bisa lebih remuk lagi kali. hihi

      Hapus
  4. Wah, soal pekerjaan, mungkin saat ngga akan curhat di sini. Karena sebagai wanita, bagi saya pekerjaan hanya sebagai tambahan.

    Tapi dalam perjuangan hidup, setiap orang memiliki kisah masing-masing, tanpa memandang jenis kelamin.

    Kadang saat memandang kesuksesan orang lain, tebersit di dalam hati, enak sekali hidup orang itu. Padahal kita tak pernah tahu seberat apa ujian yang telah ia lalui.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itu mba Nisa, orang kadang melihat enaknya aja. jarang yang berpikir melihat perjuangan hidup sebelumnya.

      Dan semua orang pasti punya kisah masa lalu yang unik dan kadang mengharukan.

      Hapus