PANTAI SEREG, Potensi Tempat Wisata Yang Belum di Kembangkan Secara Maksimal

Ngobrolin tempat wisata , daerah cianjur tentu salah satu tempat wisata favorite para traveller, bukan cuma wisata alam pegunungan dan air terjunnya, cianjur juga memiliki tempat wisata pantai yang gak kalah bagusnya dengan daerah lain.



saya mengangkat nama Pantai SEREG karena teringat setahun yang lalu kami pernah kesini.

walau sudah setahun yang lalu saya berkunjung, namun kisah pantai Sereg kabarnya gak jauh beda penampilannya dengan setahun yang lalu, itu menurut kabar saudara yang terakhir berkunjung.


Pantai Sereg terletak Kecamatan Sindangbarang, sekitar 120 km ke arah selatan dari pusat Kota Cianjur.

kenapa saya bilang kondisinya gak jauh beda,dan kenapa menurut saya belum di kembangkan secara maksimal.?

jawabannya begini. setahun yang lalu saat saya berkunjung, waktu memasuki pintu masuk tidak ada gerbang masuk dan tempat parkir, bahkan loket penarikan tiket atau yang jaga tidak ada, yang tampak cuma ada dua bangunan rumah sekaligus warung yang terpisah.

jadi seperti memasuki pantai bebas retribusi, asik juga sih tidak usah bayar. Gratiss...cuma bayar parkir aja. waktu itu kalau saya enggak salah ingat sih sekitar Rp.5000,-

waktu itu saat turun dari mobil langsung hamparan pasir pantai yang menyambut kaki ini melangkah, karena emang belum ada jalan setapak atau sejenisnya.

yang ada parkir mobil langsung di pinggir pantai, asik juga sih gak usah berjalan jauh dari parkiran.

Saat itu sama sekali tidak ada pedagang souvenir, ya... yang ada itu dua warung penjual makanan yang standby dengan seorang ibu dan anaknya nyaris hampir seperti tidak ada orang sepi...

mungkin karena saya kesini pas hari minggu pagi atau liburan biasa, bukan hari libur besar. seperti lebaran.

atau saya aja yang datangnya kepagian? enggak juga sih karena saat ke sini waktu sudah menunjukan pukul 09:00 wib.

dan saat itu yang berkunjung kesana cuma kami sekeluarga, serasa seperti pantai pribadi. kami hanya di temani seorang pekerja yang sedang hilir mudik menambang pasir dengan mobil jeep yang dimodifikasi menjadi mobil bak.





tidak berapa lama akhirnya ada juga yang datang dengan sebuah truk penuh anak-anak, mungkin ini rombongan anak-anak kampung sebelah yang berpiknik.

yang lucunya lagi setelah truk itu berhenti dan bak truk di buka. anak-anak di biarkan saja di umbar berlarian kepantai, seperti ayam di umbar. tanpa ada orang dewasa yang mengawasi.

tapi riuhnya anak-anak ini tetap saja tidak membuat suasana jadi ramai, sebab mereka berenang di tempat yang jauhnya mungkin sekitar 200 meter dari lokasi saya berdiri.

sampai kami menjelang mau pulang pun tidak ada penambahan pengunjung.

waktu selesai berenang yang lebih mengecewakan lagi kita akan bingung saat pakai ruang bilas, sebab kamar mandi yang tersedia airnya hanya cukup buat cuci muka dan buang air kecil.

itupun dengan kondisi memprihatinkan, dua kamar mandi dengan pintu yang rombeng.

sepertinya juga persediaan atau stok air tawar di pantai ini terbatas.

akhirnya rela cuma bisa ganti baju yang basah dan harus pasrah dengan tubuh yang lengket di perjalanan pulang.






Sebenarnya potensi alamnya sangat indah, dengan lokasi pantainya yang masih bersih tentunya lokasi ini seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah untuk bisa di kelola dengan baik.

karena kabar terakhir dari saudara saya kondisi pantai masih seperti itu, persis seperti setahun yang lalu..

kita harap kondisinya kedepan makin baik karena saya ada rencana ke sini lagi, mau explore lebih jauh, karena katanya pantai ini terbagi menjadi beberap zona. dan saya waktu itu belum tahu ada di zona bagian mana.

 Dan satu lagi kalau saya boleh request please...deh ruang bilasnya lebih di perhatikan.

10 komentar

  1. Saya malah sebaliknya.. berharap tidak dimanfaatkan secara maksimal.

    Sebuah tempat kalau dijadikan tempat wisata cenderung menjadi rusak dan hilang keindahan alamnya. Komersialisasi memakan korban..

    Jadi, malah sebaiknya tidak ada orang yang tahu.. biar tidak rusak..:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pendapat pak Anton betul juga, kalo tempat ini sudah komersil, bisa jadi akan lebih kotor karena banyaknya pengunjung.

      dan saya tidak bisa menikmati pantai ini selayaknya pantai pribadi lagi.. he..he..

      Hapus
  2. sepertinya bkn artikel edisi 15 menit ya mas.....?

    soalnya tulisannya lebih enak dibaca. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kang Nata tau aja, iya ini artikel lebih dari 15 menit buatnya.

      tapi saya sudah bisa langsung menuangkan ide loh sekarang. tidak seperti dulu di awal ngeblog berhari-hari artikel baru siap posting.

      Hapus
    2. Kang Nata gitu lo..

      Hahahaha... kabar bagus mas Andi.. berarti sudah lebih lancar kan dalam menuangkan ide. Lanjutkan... jangan ragu... ada 200 juta pembaca lebih di Indonesia dan mungkin tulisan ini akan mengilhami sebagian di antara mereka..

      Cemungudzzz..

      Hapus
    3. wahh....itu kemajuan besar mas....lanjutkan !

      Hapus
    4. iya saya jadi lebih semangat setelah baca artikel maniak menulis tentang suggest google tentang ngeblog pakai bahasa melayu.

      Hapus
  3. foto pertama kayak..foto Prawedding ya...Mas! mesra soanya, hehe.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu padahal foto gak tau saya ngambilnya, adik ipar yang jepret. pas saya liat bagus ya saya tampilkan di sini.

      Hapus