Meronce biji-bijian


Malam tadi istri minta dibantu Meronce, tapi istri lebih suka menyebutnya dengan sebutan meronje lebih enak di sebutnya.

Ini bukan hobi baru, iseng belaka atau ada proyek bisnis meronce, tetapi ini adalah tugas praktek prakarya milik anak saya yang masih kelas satu SD.

Entah kurikulumnya atau cara gurunya mengajar, yang jelas setiap ada tugas praktek yang mengerjakan pasti melibatkan orangtua.

Saking seringnya guru menyuruh melalui grup wa. (jaman sudah berubah guys, sekarang apa-apa pake grup WA). 

Sampai ada cerita si anak enggak tau kalau ada tugas prakarya dari gurunya.

Si anak yang melihat Mamanya mengerjakan sesuatu bertanya:

"Lagi bikin apaan mah? ya ampun Nak, mama lagi ngerjain tugas kamu ini. Masya Allah!!!!"

Parah kan? kebangetan,  karena emang pemberitahuan tugas adanya di grup WA.

Bagaimana orangtua gak turun tangan, setiap tugas praktek yang di berikan lumayan punya tingkat kesulitan khusus dan suka dikasih deadline, contohnya ini.

Meronce dengan bahan dari alam, bayangin anak kelas satu SD pasti akan kesulitan membuatnya karena selain harus mencari bahan, memasukkan benang ke jarum.

Karena kebetulan memakai benang, tidak memakai kenur atau nylon.

Rupanya jarum tak sanggup melubangi, akhirnya digunakan obeng besi dengan ukuran terkecil. Dengan cara ini tugas si jarum jadi jauh lebih ringan.

Saya sempat tertusuk saat melubangi melinjo semalam, karena kurang hati-hati, dan dikejar deadline harus dikumpul besoknya

Gila enggak.


Makannya sang guru lebih sering  memberikan tugas ke anak melalui emak-emak melalui grup WA dengan dalih agar didampingi orangtua di rumah

Itu baru tugas meronje, masih banyak contoh tugas yang lampau, seperti membuat kolase dengan lima gambar berbeda, membuat origame tugas berkelompok, membuat umbul-umbul ondel-ondel, menghias kelas dll. yang semuanya melibatkan orangtua

Tapi ujung-ujungnya orangtua yang mengerjakan tugasnya karena mengejar deadline. Walapun melibatkan anak juga untuk di suruh ini itu.

Bahkan saya waktu itu sempat ikut mengerjakan lima gambar kolase yang harus di kumpul besok, begadang sampai jam 1 malam dan pas di kumpulin cuma dapet nilai tujuh.

Makan ati gak sih?

Seharusnya tugas tersebut bukan di kerjakan di rumah tapi di sekolah, kami para orangtua hanya menyiapkan bahan, lalu anak yang mengerjakan di kelas. Selesai enggak selesai, bagus enggak bagus ya di kumpul.

Jadi si anak benar-benar mengerjakan semampunya. sebisanya

Iya toh?

2 komentar