Vaksin Penuh Drama, Sertifikat gak Keluar


vaksin-penuh-drama

Sebetulnya males aja buat vaksin karena cerita ini dan itu yang bikin galau, tapi karena sudah ada kata wajib dari perusahaan ya akhirnya ikut juga program vaksin yang ada di kecamatan.

Setelah sebelumnya tanya-tanya sama RT dan di bikin surat domisili karena KK saya beda dengan tempat tinggal.

Pagi-pagi sekali saya berangkat di temani istri yang sekalian ikut di vaksin, buat jaga-jaga kalau nanti saya kliyengan waktu pulang.

Denger cerita sih begitu, sodara yang habis di vaksin astrazeneca, pas pulang badannya pada lemes. Jadi istri siap kalau - kalau ada efek buruk di badan saya nanti.


vaksin-penuh-drama

Gak di sangka saya berasa berangkat paling pagi. Ternyata sudah rame banget, padahal masih jam 6. dari subuh udah pada ngantri kali ya. luar biasa antusias ternyata masyarakat.

vaksin-penuh-drama

Setelah lebih dari satu jam berdiri pintu gerbang pun di buka dan antrian mulai bergerak maju.

Antrian sempat ada insiden penyerobotan olah kaum emak-emak berseragam yang memotong antrian.

Sempat cekcok mulut tapi akhirnya mereda. entahlah saya melihat para emak-emak kaus kuning penyerobot seperti merasa punya kuasa di wilayah ini, atau merasa punya bekingan.

Tak berhenti di situ didalam juga sempat ricuh. Setelah ada nomor antrian yang di pangil beberapa kali gak nongol orangnya.

Panitia memutuskan orang yang duduk di baris depan berapapun nomornya di suruh maju ke meja registrasi.

Merasa nomornya di loncati, beberapa orang protes, dan teriak-teriak. termasuk saya dan istri yang cuma ikut-ikutan aja. he..heh..

Sebentar suasana mereda setelah nomor urut di berlakukan lagi.

hadeuuh.. seruu...deh

Gak lama kemudian saya masuk, lalu di screening dan lolos untuk di vaksin. Dan sedikit bergaya selfie.

abis itu di suruh nunggu dan nanti dipanggil lagi. enggak lama saya dapet surat bukti vaksin

sambil menyerahkan selembar kertas petugasnya ngomong.

"Pak ini nanti telepon 119, sebab nomor telepon bapak gak tercantum, nomor telepon buat download sertifikat vaksin"

Saya cuma bengong dan mengiyakan.

Saya ingat-ingat kayaknya tadi sudah komplit isi datanya. Terus otak saya kembali memutar. Waktu giliran saya tadi kayaknya petugasnya lagi rada sewot. terus ada onomongan dari rekan sebelahnya supaya "sabar"

Mungkin beliau kesel sama orang - orang sebelumnya. 

 

119 selalu sibuk

Ah... saya harus pulang dan besoknya coba telp 119, tapi selalu putus, beberapa minggu kemudian telp lagi pakai telp rumah berulang-ulang dan seperti terputus atau di reject.

Puncaknya saya kirim dm instagram, saya coba hubungi di twitter peduli lindungi tapi gak ada jawaban.

Saya kali ini memerlukan sertifikat karena ada kabar dari grup RT ada bantuan sembako dan syaratnya mesti ada bukti sertikat vaksin.

kemaren saya cuek masalah sertifikat, tapi ini urusannya SEMBAKO.

hadeuuh. akhirnya dapat solusi dari temen suruh email aja.

Malamnya langsung saya email ke bagian sertifikat, belum ada balesan

Paginya saya email ke bagian vaksin enggak lama dapet jawaban dan langsung di perbaiki update data saya.

sekejap sertifikat sudah di tangan. dan langsung saya cetak buat di tuker SEMBAKO ke RT.

Seandainya petugsas sedari awal lengkap masukin data,  saya engak perlu repot-repot telp. dm bahkan email.

Begitulah petugas layanan masyarakat, kalau menganggap sepele.

hal sepele cuma nomor telepon gak di masukin bikin repot sampai emosi ke ubun-ubun.

2 komentar

  1. wahhhh panjangnya queue...

    ehe ehhh form tu hampir samalah mas dengan form yang kami guna di sini... kebetulan ke ni? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin saja format form standard vaksin sama :)

      Hapus